| Peran Relawan Dalam Perawatan Paliatif |
|
|
Siapakah yang disebut relawan dalam perawatan paliatif itu? Relawan adalah seseorang yang:
Relawan perawatan paliatif adalah bagian dari tim perawatan paliatif dari berbagai disiplin perawatan dan harus bertindak serta diperlakukan dengan pantas selayaknya anggota tim lainnya. Agar dapat melakukan tugas-tugasnya sesuai harapan, relawan perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan yang memadai. To Treat The PatientManusia adalah makhluk psiko-bio-sosio-kultural-spiritual. Unsur-unsur jiwa, badan, lingkungan, dan spiritual berada dalam suatu keseimbangan. Jika salah satu unsur terganggu maka unsur-unsur lain akan terganggu juga. Oleh karena itu jika aspek psiko-sosio-spiritual terganggu, fungsi tubuh dapat terganggu juga, yang sering dirasakan sebagai keluhan somatik atau penyakit psikosomatik. Masalah-masalah psikososial, masalah budaya, dan spiritual, dapat menyebabkan bahkan menimbulkan rasa sakit, yang tidak dapat disembuhkan dengan obat sebanyak apa pun kecuali masalah psikososial yang mendasarinya ditemukan dan diselesaikan. Perawatan paliatif menerapkan prinsip perawatan holistik atau secara menyeluruh kepada pasien, yang menyangkut keseluruhan aspek bio-psiko-sosio-kultural-spiritual. Jadi penekanannya bukan to treat the disease tapi to treat the patient. Tindakan perawatan holistik ini tidak mungkin seluruhnya dilakukan oleh dokter atau perawat saja, karena dokter dan perawat memiliki keterbatasan tenaga. Di sinilah dibutuhkan peran relawan paliatif. Jadi relawan paliatif berkarya di luar masalah perawatan medis dan kuratif. Karya relawan terutama pada bidang dukungan spiritual, membantu mengatasi masalah sosial dan budaya, masalah psikologis, bahkan masalah yang berhubungan dengan keluarga. Relawan juga berfungsi sebagai jembatan penghubung antara pasien-dokter maupun pasien-keluarga. Agar dapat melakukan tugasnya dengan baik, relawan perlu melakukan pendekatan kepada pasien, dan pendekatan ini butuh waktu. Relawan harus sering mengunjungi dan berkomunikasi dengan pasien, tidak terbatas hanya pada waktu yang dianggap perlu untuk mengunjunginya. Kunjungan semacam inilah yang tidak dapat dilakukan oleh dokter maupun perawat. Kendala yang dialami oleh relawan dalam melakukan tugasnya adalah keterbatasan waktu dan tenaga. Apalagi, saat ini di Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo hanya ada dua orang relawan yang aktif dan dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Untuk mengatasi kendala ini, Pusat Pengembangan Perawatan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo Surabaya memberikan pelatihan kepada kader-kader PKK se-Kodya Surabaya. (Th. Max Koesbagyo/rumahkanker.com) * Disampaikan pada Seminar Strategi Berperang Melawan Kanker yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo – FK Unair Surabaya, 17 Februari 2007, diupload dengan seijin penulisnya.
|