| Relawan Paliatif: Tidak Cukup Niat Baik |
|
|
Dalam pengobatan kanker secara holistik, dibutuhkan orang-orang yang tergerak untuk berkorban dan berbagi kasih sayang dengan penderita kanker dan keluarganya. Sering kegiatan menjadi relawan paliatif dirasakan asing olehe kebanyakan orang. Bagaimana kita mampu mengasihi orang-orang yang sebelumnya sama sekali belum kita kenal, dengan luka kanker, dan tak jarang beraroma tidak sedap? Kegiatan kerelawanan harus dilakukan dengan sukarela, penuh kasih sayang, dan bertanggung jawab. Hati yang mengasihi adalah kata kuncinya, dan menjadi dasar dari pelayanan ini. Bukan sekedar untuk mencari keseimbangan hidup. Pada dasarnya seorang relawan paliatif bekerja untuk melayani sesama. Segala sesuatu dilakukan bagi kepentingan penderita, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan atau apa yang kita anggap baik. Sering terjadi, kita tidak dapat melihat perbedaan antara melayani sesama dan melayani diri sendiri. Misalnya, kita menyarankan bahkan setengah memaksa penderita untuk banyak makan makanan yang bergizi, sementara kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Atau, saat berkunjung ke rumah penderita kita lebih banyak berbicara, padahal semestinya lebih banyak mendengarkan. Seorang relawan paliatif seharusnya:
Niat baik saja sering tidak cukup. Dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang didapatkan dari pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara berkala, dan tentunya juga literatur. Karena masalah yang dihadapi penderita sangat kompleks, yakni menyangkut masalah: Memberi diri untuk dipercaya adalah filosofi pendampingan yang baik:
Memberi pendampingan kepada satu penderita secara tuntas jauh lebih berkualitas daripada mendampingi banyak orang tetapi setengah-setengah. (Rudi Prins/rumahkanker.com ) * Disampaikan pada Seminar Strategi Berperang Melawan Kanker yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo – FK Unair Surabaya, 17 Februari 2007, diupload dengan seijin penulisnya.
|