"Untuk menjadi optimis memang bukan jalan yang mudah, mengingat kondisi tiap orang berbeda. Tapi yang penting optimisme harus tetap ada, walaupun jurang itu di depan kita, tinggal kita mau atau tidak untuk menyeberanginya."
(Jeremy, 28 th, penderita kanker otak)

Pengobatan yang pertama anda pilih jika diketahui terkena kanker adalah:
 

Mohon Perhatian

Untuk kepentingan sosial, seluruh artikel di Rumah Kanker boleh dikutip dan dipublikasi ulang dengan menyebutkan sumbernya. Sebuah email pemberitahuan dapat mewakili penghargaan anda kepada kami. Tetapi penggunaan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan ijin terlebih dahulu. Anda bisa menggunakan form kontak untuk menghubungi kami.
 

Manfaatkan informasi dalam Rumah Kanker secara bijaksana. Gunakan artikel sebagai pelengkap, bukan pengganti konsultasi, keterangan, dan nasehat dokter. Anda tetap harus bertatap muka langsung dengan dokter. Konsultasi online tidak memadai untuk diagnosa penyakit dan menentukan pengobatan yang tepat.

Silakan Masuk



Kami menjaga privasi Anda.

Bezuk

Ada 32 Tamu berkunjung
Anda pengunjung ke : 942377
Relawan Paliatif: Tidak Cukup Niat Baik Bookmark and Share

Dalam pengobatan kanker secara holistik, dibutuhkan orang-orang yang tergerak untuk berkorban dan berbagi kasih sayang dengan penderita kanker dan keluarganya. Sering kegiatan menjadi relawan paliatif dirasakan asing olehe kebanyakan orang. Bagaimana kita mampu mengasihi orang-orang yang sebelumnya sama sekali belum kita kenal, dengan luka kanker, dan tak jarang beraroma tidak sedap?

Kegiatan kerelawanan harus dilakukan dengan sukarela, penuh kasih sayang, dan bertanggung jawab. Hati yang mengasihi adalah kata kuncinya, dan menjadi dasar dari pelayanan ini. Bukan sekedar untuk mencari keseimbangan hidup.

Pada dasarnya seorang relawan paliatif bekerja untuk melayani sesama. Segala sesuatu dilakukan bagi kepentingan penderita, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan atau apa yang kita anggap baik.

Sering terjadi, kita tidak dapat melihat perbedaan antara melayani sesama dan melayani diri sendiri. Misalnya, kita menyarankan bahkan setengah memaksa penderita untuk banyak makan makanan yang bergizi, sementara kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Atau, saat berkunjung ke rumah penderita kita lebih banyak berbicara, padahal semestinya lebih banyak mendengarkan.

Seorang relawan paliatif seharusnya:

  • Datang sesuai jadwal yang diinginkan penderita atau waktu yang disepakati bersama.
  • Menguasai cara berkomunikasi yang baik.
  • Memiliki feeling yang kuat tentang apakah penderita sudah cukup dengan kehadiran kita atau masih memerlukannya.
Niat baik saja sering tidak cukup. Dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang didapatkan dari pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara berkala, dan tentunya juga literatur. Karena masalah yang dihadapi penderita sangat kompleks, yakni menyangkut masalah:
  • Biologis – ditangani oleh dokter dan perawat.
  • Psikis – boleh dikata tugas relawan paliatif 25%-nya adalah menjadi “psikolog”.
  • Sosial – 30%-nya membantu mengatasi masalah-masalah sosial.
  • Kultural – 25%-nya membantu penderita menghadapi masalah-masalah kultural.
  • Spiritual – 20% kegiatan relawan paliatif adalah membimbing penderita secara spiritual.
Memberi diri untuk dipercaya adalah filosofi pendampingan yang baik:
  • Tidak menawarkan solusi-solusi alternatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
  • Tidak memberikan harapan-harapan palsu.
  • Tidak membujuk penderita dengan pujian-pujian yang tidak sesuai dengan kenyataan.
  • Tidak memotivasi penderita dengan menggunakan unhappy ending stories.
  • Selalu berusaha untuk tidak mengecewakan dan tepat janji.

Memberi pendampingan kepada satu penderita secara tuntas jauh lebih berkualitas daripada mendampingi banyak orang tetapi setengah-setengah. (Rudi Prins/rumahkanker.com )

* Disampaikan pada Seminar Strategi Berperang Melawan Kanker yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo – FK Unair Surabaya, 17 Februari 2007, diupload dengan seijin penulisnya.

 

 
Tahukah Anda?

MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?

"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."

(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)

Masalah Psikologi Pada Penderita Kanker

Pengobatan holistic atau holistic medicine didasarkan atas dua hal yaitu pengobatan fisik dan pengobatan psikis dan keduanya sanga [ ... ]


Mengatasi Masalah Buang Air Besar

Banyak di antara para pejuang kanker yang dalam perkembangan penyakitnya mengalami masalah dalam buang air besar (BAB). Diperkirak [ ... ]