"Untuk menjadi optimis memang bukan jalan yang mudah, mengingat kondisi tiap orang berbeda. Tapi yang penting optimisme harus tetap ada, walaupun jurang itu di depan kita, tinggal kita mau atau tidak untuk menyeberanginya."
(Jeremy, 28 th, penderita kanker otak)

Pengobatan yang pertama anda pilih jika diketahui terkena kanker adalah:
 

Mohon Perhatian

Untuk kepentingan sosial, seluruh artikel di Rumah Kanker boleh dikutip dan dipublikasi ulang dengan menyebutkan sumbernya. Sebuah email pemberitahuan dapat mewakili penghargaan anda kepada kami. Tetapi penggunaan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan ijin terlebih dahulu. Anda bisa menggunakan form kontak untuk menghubungi kami.
 

Manfaatkan informasi dalam Rumah Kanker secara bijaksana. Gunakan artikel sebagai pelengkap, bukan pengganti konsultasi, keterangan, dan nasehat dokter. Anda tetap harus bertatap muka langsung dengan dokter. Konsultasi online tidak memadai untuk diagnosa penyakit dan menentukan pengobatan yang tepat.

Silakan Masuk



Kami menjaga privasi Anda.

Bezuk

Ada 30 Tamu dan 1 Anggota berkunjung
  • vernicequinoes
Anda pengunjung ke : 942384
Energi Positif Pejuang Kanker Stadium 4 Bookmark and Share
Sahabat baru.....optimisme yang luar biasa.....kesederhanaan yang bersahaja....itulah yang saya lihat dari seorang T. Sima Gunawan (saya biasa memanggilnya Mbakyu Sima). Perempuan kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 31 Mei 1961 yang lalu adalah seorang pejuang kanker yang luar biasa hebat di mata saya.

Lulusan tahun 1984 dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada ini pertama kali kedatangan tamu bernama kanker payudara sekitar akhir 2004 pada stadium 2, dan ”naik kelas” menjadi stadium 4 (menyebar ke tulang) sekitar April 2007.

Jangan membayangkan sahabat saya ini terkapar loyo di tempat tidur, kurus kering, dan harus dikasihani. Tidak. Semua yang saya lihat adalah kebalikannya. Melihatnya  secara fisik sungguh sempurna. Kecantikannya terpancar dari senyumnya yang tulus. Tutur bahasanya lembut dan santun. Karirnya sebagai seorang penulis lepas sekaligus penterjemah bahasa Inggris tidak diragukan lagi. Artikel yang dibuat dalam bahasa Inggris muncul di berbagai media. Tidak hanya itu, dia juga seorang pengajar (mentoring) dan juga membantu teman-teman sesama penyintas kanker melalui blog pribadinya http://ayomari.blogspot.com/ hingga saat ini.

Baginya kanker bukanlah hal baru. Neneknya tersayang adalah korban dari keganasan kanker payudara, sementara ibu kandungnya juga divonis menderita tumor rahim sepuluh tahun yang lalu dan masih hidup sehat hingga saat ini memasuki usia 80 tahun.

Ani_Yuni_Sima
Trio pelawan kanker: Siti Aniroh, Yuniko Deviana, T. Sima Gunawan
Hidup baginya tetap indah, meskipun dia harus bekerja untuk membiayai semua pengobatan yang harus dijalaninya. Saat ini setiap bulan dia masih harus infus Zometa, suntik Zoladex dan rutin minum Femara. Mbakyu Sima pun masih harus rutin kontrol ke dokter 2-3 bulan sekali. Bisa dibayangkan berapa rupiah yang harus dirogoh dari koceknya, yang kesemuanya merupakan hasil keringat dia sendiri tanpa pendamping hidup???

Suatu hari saya bertanya, ”Dapat fasilitas kesehatan enggak Mbakyu dari kantor?” Jawabannya penuh canda, ”Enggak tuh.... karena statusnya kontrak (bukan karyawan tetap), semua biaya mesti ditanggung sendiri.”

Mendengarnya begitu menyakitkan buat saya. Di tengah sakit dia bekerja sendiri dan harus mengeluarkan biaya pengobatan yang setinggi langit. Dengan mobil kesayangannya dia masih nyetir sendiri dari rumahnya di kawasan Bintaro menuju Jakarta Barat. Membayangkan kemacetan lalu lintas di jalur itu saja saya sudah merasa lelah. Tapi jika bertemu dan berbincang dengannya semua persepsi negatif tentang penderita kanker yang ada di kepala saya seketika menjadi lenyap.

Di sela-sela kesibukannya dia masih menyempatkan olah raga jalan kaki di sekitar rumahnya  tiap pagi sekitar 30-an menit. Seminggu sekali dia  yoga di kantor dan sesekali reiki.

Apa resepnya untuk menghilangkan kelelahan? ”Nonton TV sambil tiduran, banyak makan buah dan sayuran,” begitu katanya....ha-ha-ha. ”Hidup ini simple,” dia menambahkan. Di tengah tawa candanya dia pun mengatakan, ”Meskipun kankerku naik kelas, jangan sampai aku mendahului orang tua... nggak sopan .....hehehhe....usia ibu 80 tahun dan bapak 82 tahun, mereka masih sehat. ....he-he-he... jalani saja.....jangan kebanyakan pikiran, makin dipikirin makin puyeng.”

Banyak sekali saya temui pejuang kanker yang terpuruk dan putus asa padahal masih dalam kondisi yang jauh lebih baik dari Mbakyu Sima. Saya sendiri pun merasa malu dengan sikap saya yang kadang minta perhatian lebih dari orang-orang di sekitar saya. Ingin diperlakukan secara istimewa dengan embel-embel ada kanker di tubuh saya. Pertanyaannya adalah ”Pantaskah dengan kondisi yang lebih baik darinya kita putus asa?”

Sahabat.... ada do’a yang terselip untukmu.... untuk teman-teman yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya.... untuk kita semua.... Semoga Tuhan senantiasa menjaga kita dengan kuasa-Nya, cinta dan kasih-Nya, amin. (Siti Aniroh/rumahkanker.com)

Siti Aniroh
Penyintas kanker, penulis buku Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart

Anda juga mempunyai pengalaman menarik dalam melawan kanker?

Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot. Silakan aktifkan Javascript untuk melihatnya.


 
Tahukah Anda?

MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?

"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."

(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)

Masalah Psikologi Pada Penderita Kanker

Pengobatan holistic atau holistic medicine didasarkan atas dua hal yaitu pengobatan fisik dan pengobatan psikis dan keduanya sanga [ ... ]


Mengatasi Masalah Buang Air Besar

Banyak di antara para pejuang kanker yang dalam perkembangan penyakitnya mengalami masalah dalam buang air besar (BAB). Diperkirak [ ... ]