- 0
Buku
Miracle of Cell Healing![]() Dua minggu ini saya membaca tiga judul buku yang ternyata saling berkaitan satu sama lain. Berawal dari buku Bebas Dari Kanker Dengan Terapi Alternatif (Lianny Hendranata) hadiah dari seorang teman, disusul Law of Attraction, Mengungkap Rahasia Kehidupan (Michael J. Losier), dan Miracle of Cell Healing ... Selengkapnya |
Diet Kanker Sesuai Golongan DarahBertahun-tahun telah lewat sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, saat kita pertama kali mendapatkan pelajaran tentang konsep makanan empat sehat lima sempurna. Konsep yang membagi makanan sehat menjadi lima komponen besar ini (karbohidrat, sayur-mayur, buah-buahan, sumber protein, dan susu) ini terus-menerus mendapatkan pengulangan dan ... Selengkapnya |
| Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart |
|
|
Di antara berbagai penyakit yang diidap manusia, kanker tergolong penyakit yang berat dan kompleks. Proses pemeriksaan dan pengobatannya membutuhkan stamina dan keteguhan luar biasa, baik dari segi fisik, psikis, finansial, spiritual, juga sosial. Dan itu tidak cukup dijalani berhari-hari atau berminggu-minggu, tetapi harus berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Yang luar biasa lagi, dibanding penderita berbagai penyakit lain di Indonesia, para penderita kanker sudah setapak lebih maju. Mereka tidak hanya menjadi obyek pengobatan, menjadi penderita; tetapi mampu menempatkan dirinya sebagai subyek –menjadi pejuang. Senantiasa berperan aktif dalam perjalanan pengobatannya, membentuk atau bergabung dengan berbagai support group, bahkan tidak sedikit yang berbagi pengalaman dengan membuat blog atau menulis buku. Mimi , Sima , Rini , Danty , Nita , Sitta adalah sebagian di antara pejuang kanker yang berbagi melalui blog. Yuniko, selain menulis blog, membentuk support group , juga menulis buku I Have Cancer, It Doesn’t Have Me. Entah suatu kebetulan atau bukan, semua pelakunya adalah wanita, dan semuanya (pernah) mengidap kanker payudara. Buku setebal 160 halaman yang dihiasi banyak gambar ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, lancar, dan menarik bak novel, tak jarang menyentuh, kocak, tetapi sarat makna. Dan sangat utuh menyuguhkan berbagai aspek kehidupan Ani, sejak sebelum tersentuh kanker, pergulatannya melawan kanker, hingga bagaimana kanker telah mengubah hidupnya. “Apa yang saya tuliskan di sini adalah sebuah kenyataan yang saya alami. Ada kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan kebencian yang jelas terbaca. Ceritanya saya biarkan mengalir apa adanya agar orang lain tidak mengulangi kebodohan yang saya lakukan,” tulisnya. Bagi pembaca yang belum pernah bersinggungan dengan kanker, buku ini memberikan gambaran menyeluruh tentang berbagai aspek dan “seni” menghadapi kanker, serta hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan pengobatannya. Ia akan lebih mensyukuri kesehatannya, sekaligus mengerti apa yang harus dilakukan jika suatu ketika keluarga atau sahabatnya terkena kanker. Bagi pembaca yang sedang berjuang menaklukkan kanker, atau keluarga/pendampingnya, buku Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart bisa menjadi cermin diri, pelajaran, sumber inspirasi, sekaligus sumber motivasi yang kuat. “Menyandang gelar baru sebagai penderita kanker bukan berarti harus terpuruk dan menyesali nasib. Buatlah kebahagiaan-kebahagiaan kecil sebagai rasa syukur atas nikmat-Nya yang berupa cobaan kanker dan tetap berpikir positif. Tetaplah berprestasi dan terus berkarya karena kanker tidak akan mampu mengalahkan optimisme penderitanya. Jadikanlah Tuhan sebagai tempat tertinggi untuk bergantung atas segala sesuatu,” begitu pesan Ani. ![]() Siti Aniroh Walaupun topik utamanya tentang kanker, buku Ani tidak terasa menyeramkan. Justru ia lebih banyak bercerita tentang sisi-sisi positif kehidupan yang ditemukannya di sepanjang perjalanan menghalau kanker. Tentang Mas Iwan yang penuh kasih, tentang Awan lelaki kecil yang menjadi pain killernya, tentang kedekatan dengan Tuhan, tentang Simbok yang perkasa, tentang Yu Yati yang tulus, tentang sahabat-sahabat yang setia, tentang support group, tentang anggrek yang ikut sakit, tentang gaya hidup baru, bahkan juga tentang pekerjaan baru yang didapat Ani “berkat” menjadi survivor kanker. Anehkah jika dengan kanker yang dialaminya, Siti Aniroh justru merasa sedang dibelai Tuhan dengan penuh kasih sayang, dibimbing untuk menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi? (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
|

